RSS

Pluralitas Agama dan Perkembangan Spiritual Manusia

KESAMAAN HAKIKI TIAP AGAMA

  • Umat beragama semua mengakui bahwa Allah yang diimaninya itu adalah Maha sempurna, Mahamulia, Mahabesar, Mahatinggi, Mahapengasih, dan hanya kepada Dia sajalah mereka berbakti, memuji dan memuliakan serta memohon keselamatan.
  • Umat beragama semua mengakui bahwa pada hakikatnya Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk menen-tukan sikap ketaatannya kepada Allah.
  • Umat beragama mengakui bahwa manusia yang menerima wahyu Allah maupun yang menafsirkannya itu memiliki ke-terbatasan yang tak akan dapat menjangkau kesempurnaan Allah

KESAMAAN PENGALAMAN AGAMAWI

  • Pengalaman inti agamawi (cor experience), pengalaman pembebasan/penyelamatan yang dirasakan oleh setiap pribadi yang kemudian diwartakan kepada generasi-generasi berikutnya.
  • Pengalaman bersama (collective memory), pengalaman inti agamawi yang dirasakan oleh sekelompok orang kemudian dipaparkan dalam sikap hidup bersama, rumusan ajaran dan simbol-simbol ibadat yang menawarkan kembali pengalaman inti agamawi kepada para pemeluknya.
  • Penafsiran (Interpretation), untuk memahami cor experience dan collective memory para pendahulu yang kemudian melahirkan bermacam-macam agama, aliran/masab, maupun denominasi.

SIKAP TERHADAP PLURALITAS AGAMA

  • Paradigma Eksklusif, menganggap bahwa orang lain tak akan selamat apabila tidak memeluk agama yang diyakininya. Paradikma ini akan menimbulkan sikap tidak mau menghargai dan memahami agama lain, bahkan cenderung meremehkan.
  • Paradigma Inklusif, menerima kemungkinan adanya pewahyuan dalam agama lain, namun bagaimanapun juga akhirnya agama yang dipeluknyalah yang menentukan. Paradigma ini menumbuhkan sikap terbuka untuk menghargai agama lain, namun tidak menempatkannya secara egaliter dengan agama yang dipeluknya.
  • Paradigma Pluralis Indeferen, menghargai kesamaan agama-agama yang mempunyai tujuan yang sama yaitu Tuhan, namun kurang menghargai kekhasan masing-masing agama. Paradigma ini mendorong sikap terbuka dan mengakui keberadaan agama-agama secara egaliter, tetapi kurang serius menghayati agama yang dipeluknya.
  • Paradigma Pluralis dialogis, menyadari adanya pluralitas agama, dan menolak paradikma eksklusif, serta mensitesekan paradigma inklusif dengan pluralis indeferen untuk mendorong sikap penghargaan terhadap agama-agama lain, disertai penghayatan agama yang dipeluknya secara dewasa.

SIKAP YANG KITA BANGUN

  • Kita tidak usah mengklaim bahwa orang yang tidak sekeyakinan dengan kita itu tidak selamat, karena yang menentukan keselamatan itu Allah sendiri bukan kita.
  • Kitab Suci berisi kesaksian tentang firman dan karya Allah itu diwartakan dalam konteksnya masing-masing untuk kemudian dapat dipahami terus-menerus sebagai seruan aktual dalam konteks kehidupan masa kini.
  • Mengakui bahwa setiap manusia mempunyai kesadaran spiritual sesuai dengan apa yang diyakininya.
  • Mengakui bahwa Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan sikap imannya secara bertanggungjawab.
  • Menerima pluralitas agama sebagai kenyataan yang menunjukkan kemahakuasaan Allah sekaligus membuktikan keterbatasan manusia dalam menangkap dan mewartakan wahyu Allah. Menghargai keberadaan agama-agama secara egaliter dengan tetap mengakui dan menghormati kekhasan masing-masing agama.
  • Berusaha untuk lebih memahami kesamaan penghayatan agamawi (relegiositas) dalam membangun moralitas hidup beragama (kesalehan yang otentik) daripada memperdebat-kan keberbedaan normatif.
  • Bersedia untuk melakukan pertemuan (silaturahmi) dan dialog antar umat beriman.
  • Menyatukan tekad untuk memuliakan Allah, serta memperjuangkan sungguh-sungguh tegaknya keadilan dan kebenaran demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang damai sejahtera dalam naungan rahmat Tuhan Yang Mahaesa.

PERKEMBANGAN SPIRITUAL MANUSIA

James W. Flower seorang teolog yang lahir di Nort Carolina Amirika Serikat pada 12 Oktober 1942, telah mencetuskan teori perkembangan spiritual yang dapat dikategorikan sebagai suatu teori perkembangan manusia dalam psikologi perkembangan, menyatakan tahapan-tahapan perkembangan spiritual manusia

  • Tahap Proyektif Intuitif (Intuitive Projective) pada anak usia 3 – 6 tahun
  1. Spiritualitas bertumbuh berdasarkan proyeksi Spiritualitas orang-orang yang terdekat dengan dirinya. (orang tua maupun saudara-saudaranya)
  2. Pada tahap ini anak belum dapat memahami makna sebab-akibat, kronoligi waktu, perbedaan antara khayalan dengan kenyataan.
  3. Mulai belajar menghayati makna hubungan persahabatan dengan Tuhan dan teman-temannya sehingga mulai senang berdoa dan berteman.
  4. Mulai belajar menghayati makna kasih yang memperdulikan dan mengampuni
  • Tahap Kelonggaran Harafiah (Mithic Literal) pada anak usia 6 – 12 tahun
  1. Pertumbuhan Spiritualitasnya mulai dipengaruhi oleh orang-orang di luar  rumahnya, terutama mereka yang menjadi idolanya \
  2. Mulai dapat membedakan antara khayalan dengan kenyataan.
  3. Berani mengemukakan pendapat dan mengembangkan kategori-kategori untuk  mengklasifikasikan pengalaman pribadinya dalam perjumpaan dengan orang lain
  4. Memanfaatkan cerita-cerita untuk menemukan makna atas dirinya
  5. Keyakinan kepada Tuhan sangat kokoh dan tak dapat diganggu gugat.
  • Tahap Sintetis Konvensional (Synthetic Conventional) pada usia 12 – 18 tahun
  1. Penghayatan Spiritualitas disertai kesadaran akan relasi personal dengan orang lain.
  2. Dapat menyesuaikan diri dengan orang-orang sekitarnya.
  3. Lebih dapat menghayati makna simbol-simbol lebih dari sekedar penampilan visualnya
  4. Hubungan dengan Tuhan semakin akrab dan dijhayti secara pribadi
  • Tahap Reflektif Individuatif (Individuative Reflective) pada usia 18 – 22 tahun
  1. Keseimbangan dalam penghayatan spiritualitas semakin matang berdasarkan refleksi  pengalaman hidup dalam terang iman yang diyakininya.
  2. Mulai mempertimbangkan sungguh-sungguh keinginan untuk hidup yang bermakna  dalam terang iman yang diyakininya
  3. Mulai berani mempertanggungjawabkan iman yang diyakininya.
  • Tahap Spiritualitas yang konjungtif pada usia 22 – 30 tahun.
  1. Kematangan Spiritualitasnya dibangun dari pengalaman perjumpaan dengan sesama, maupun dengan kenyataan hidup pribadi yang dialami (menderita, diperlakukan tidak  adil, merasa kehilangan, maupun mendapatkan sesuatu).
  2. Pada tahap ini pengalaman hidup maupun pertumbuhan Spiritualitasnya semakin digali maknanya lebih mendalam.
  • Tahap Spiritualitas Universal (Universalizing Fith)

tahap ini Spiritualitas seseorang telah mantap dan tak tergoyahkan oleh pluralitas keyakinan, serta dapat memahami dan menghargai pluralitas iman sebagai sesuatu yang melengkapi dan meneguhkan keyakinannya.

 

2 responses to “Pluralitas Agama dan Perkembangan Spiritual Manusia

  1. rahmadanil (@rahmadanil95)

    September 20, 2013 at 1:57 am

    thanks….

     
  2. febry

    November 8, 2015 at 8:33 am

    boleh minta referensi bukunya?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Blog Stats

    • 1,048,044 hits
  •  
    %d blogger menyukai ini: